Mengapa LPDP, Luar Negeri dan Amerika?



Halo teman-teman, masih semangat #workfromhome, #stayhome dan #stayheathly kan? Tenang, sebentar lagi #newnormallife akan diterapkan. Mari bersama-sama menyesuaikan diri dengan keadaan yah... Biar bisa sehat terus.

Teman-teman pasti bertanya-tanya, mengapa sih harus beasiswa? Mengapa juga harus LPDP? Ada gak sih beasiswa yang lain? Mengapa juga harus sekolah ke luar negeri? Gak percaya sama kualitas pendidikan di Indonesia? Aku sukanya Korea, boleh gak sih ke Korea aja, Jepang, Australia yang dekat, gak usah ke Amerika?

Sebatas pemikiran saya, apapun pilihan setiap orang, selalu didasarkan pada beberapa alasan yang berbeda-beda. Nah, berikut ini beberapa alasan mengapa saya memilih LPDP, Luar Negeri dan Amerika. Semoga bisa membantu teman-teman lain yang membutuhkan informasi dan semoga bisa jadi bahan pertimbangan dalam memilih.

Well, sebenarnya jenis beasiswa yang tersedia untuk melanjutkan studi di dalam maupun di luar negeri bermacam-macam dengan persyaratan yang berbeda-beda. Misalnya di dalam negeri ada beasiswa yang disediakan oleh kampus-kampus tertentu, beasiswa Djarum, beasiswa Pertamina, dan beasiswa-beasiswa dari pemerintah daerah masing-masing. Kalau ke luar negeri ada LPDP dengan negera pilihan yang lebih banyak, AAS bila ingin bersekolah ke Australia, NZAS bila ingin ke New Zealand, Fulbright bila ingin ke United States, Monbukagakusho bila ingin ke Jepang, dan beberapa beasiswa dari negara-negera tertentu. Persyaratannya pun berbeda-beda dan biaya pendaftaran atau biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pendaftaran pun berbeda-beda.

Secara pribadi, hal pertama yang menjadi bahan pertimbangan dalam memilih lembaga pemberi beasiswa adalah persyaratan pendaftaran. Apakah saya cukup kompeten dan memenuhi kualifikasi yang disyaratkan atau tidak. Kedua, apa saja biaya pendidikan yang di-cover. Ketiga, fleksibilitas pemilihan negara dan universitas yang ditawarkan pemberi beasiswa. Keempat, biaya yang berkaitan dengan urusan pendaftaran beasiswa (ini penting loh) dan urusan setelah menjadi penerima beasiswa. Kalau saran saya sih, bila teman-teman belum mempunyai tujuan spesifik mengenai negara atau universitas impian, coba saja mendaftar ke semua jenis beasiswa yang teman-teman ketahui, karena melamar beasiswa itu belum tentu sekali daftar lolos dan belum tentu setiap kali mendaftar selalu diberkahi keberuntungan.

Sedikit cerita, saya pernah mendaftar AAS untuk beasiswa ELTA. Pada percobaan pertama, saya gagal dan barulah pada tahun kedua mendaftar saya diterima. Pada tahun 2019, saya juga pernah mendaftar beasiswa NZAS dan dinyatakan lolos namun kemudian di-decline pada dua hari berikutnya. Sedih sih waktu itu, tapi mungkin bukan rezekinya. Nah, pada tahun 2018 saya pernah mendaftar LPDP, namun gagal pada tahap wawancara sebelum akhirnya pada tahun 2019 berhasil mendapatkan beasiswa LPDP. See? Saya pernah mencoba lebih dari satu jenis beasiswa.

Berdasarkan pengalaman pribadi, LPDP menjadi pilihan saya karena banyaknya pilihan yang disediakan. LPDP memiliki beberapa jenis beasiswa LPDP dengan persyaratan yang berbeda-beda, misalnya beasiswa reguler, beasiswa afirmasi dan beasiswa targeted group. Jadi kita bisa menyesuaikan dengan kemampuan diri kita pada saat mendaftar. Selain itu, pendaftar beasiswa LPDP bebas memilih negara tujuan yang terdapat di dalam list LPDP, misalnya negara-negara di Amerika, di Australia, di Asia seperti Korea, Jepang, Thailand, bahkan negara-negara di Eropa. Pendaftar juga boleh memilih universitas-universitas negeri maupun swasta yang jumlahnya ribuan sesuai dengan keinginan kita, baik di dalam maupun di luar negeri. Nah, bagaimana dengan pembiayaannya? LPDP menanggung semua biaya pendidikan termasuk biaya buku, biaya penelitian dan biaya seminar dan tentu saja biaya hidup di negara tujuan kita. Biaya pendaftaran universitas dan pengurusan visa juga dibiayai oleh LPDP dengan sistem reimbursement. Oh yah, sebelum teman-teman berangkat ke negara tujuan biasanya ada program Pengayaan Bahasa (PB) dan Persiapan Keberangkatan (PK) yang semuanya dibiayai oleh LPDP. #kerenkan?

Selain itu, poin plus dari LPDP adalah jaringan alumni dan current student yang tersebar hampir di semua negara dan universitas-universitas di dunia yang solid. Hal ini tentu saja sangat menolong kita para pendaftar untuk memperoleh informasi, meminta bantuan me-review essay, berbagi tips dan tricks, dan sekedar memberikan support secara psikologis (percayalah, dukungan moral sangat diperlukan ketika kita mendaftar beasiswa dan sedang berjuang untuk memperoleh beasiswa).

Kalau perihal memilih untuk bersekolah ke luar negeri, sebenarnya alasannya sangat sederhana. PENGALAMAN. Logikanya saya sih seperti ini, waktu SD sampai SMP sudah saya habiskan di daerah kelahiran, kemudian melanjutkan SMA sampai tamat kuliah di Yogyakarta yang notabene-nya adalah kota besar dan lebih maju dibandingkan daerah saya. Nah, boleh dong, untuk sekolah selanjutnya saya memilih untuk keluar lagi dari zona nyaman ke tempat yang lebih maju dengan akses pendidikan yang lebih canggih dari segi kualitas dan teknologi yang disediakan. Saya percaya, setiap tempat punya keunggulannya masing-masing dan tentu saja akan menyuguhkan pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda. Semuanya bertujuan untuk membentuk karakter kita.

Ditambah lagi, bersekolah ke luar negeri akan memperoleh gelar master luar negeri yang secara kualifikasi diharapkan mempermudah kita dalam melamar kerja ditempat-tempat dengan standar tertentu. Selain itu, saya secara pribadi mengakui bahwa kualitas sistem pendidikan di luar negeri jauh lebih maju dibandingkan negara kita. No hurt feeling, yah. Tidak ada niat menempatkan negara kita diposisi kesekian, hanya saja dengan adanya gerakan beasiswa untuk masyarakat kita menempuh pendidikan ke luar negeri, secara tidak langsung kita dengan lapang dada merasa perlu untuk belajar dari negara lain yang lebih maju dalam segmen-segmen tertentu.

Sedikit berbagi, pada saat mengurus proses pendaftaran sampai diterima di universitas luar negeri saja sudah membuat saya belajar banyak hal. Belajar tentang sistematika pelayanan, konsultasi, pembagian kerja dan pengenalan kampus yang walaupun secara virtual/online terasa sangat sistematis, informatif dan on-time/on-schedule. Pengalaman-pengalaman inilah yang saya yakini dapat membantu saya secara sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung membentuk suatu pola pikir baru dan menemukan ide-ide yang baru. Hasil pemikiran ini kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik secara internal untuk pendisiplinan diri sendiri maupun secara eksternal berkaitan dengan orang lain dan organisasi. Duh, berat banget yah diajak mikirnya? #peace.

Intinya, bersekolah ke luar negeri itu tergantung kita secara pribadi, sih. Ada keinginannya atau tidak, ada tujuan tertentu atau ada hal apa yang kita cari dan bisa kita temukan dari tempat tujuan. Siap atau tidak meninggalkan zona nyaman kita dan berhadapan dengan situasi baru. Oh yah, selain itu mumpung gratis, ditanggung semua biaya hidup dan sekolah, lumayanlah bisa sekalian jalan-jalan ke luar negeri, bangun relasi lebih luas lagi dengan orang-orang dari berbagai latar budaya, bahasa, dan karakter yang berbeda-beda. Nanti, pulang-pulang ke Indonesia, banyak banget hal yang bisa kita bagi ke sekitar kita.

Nah, selanjutnya mengapa sih harus Amerika? Sebenarnya teman-teman bebas mau memilih negara mana saja yang teman-teman sukai ketika akan bersekolah ke luar negeri. Hanya saja perlu diingat, setiap negara memiliki keunggulan di bidang tertentu. Misalnya, Jepang sangat terkenal dengan science, technology dan agriculture-nya, Amerika terkenal dengan education, economic dan science-health, New Zealand terkenal dengan environment dan culture. Jadi, saran saya (lagi-lagi berdasarkan pengalaman dan hasil sharing), tentukan dulu gelar master yang diinginkan. Kemudian, carilah universitas-universitas yang menyediakan gelar tersebut. Bisa menggunakan hotcourses atau randomly mencari di google. Teman-teman kemudian bisa membuka satu persatu hasil yang disediakan atau memilih sesuai dengan kualifikasi universitas dan pe-rangking-an yang tertera di hasil pencarian. Misalnya, saya yang bertujuan untuk mengambil Master of Education dengan background Biology of Education akhirnya setelah mencari-cari dan banyak membuat pertimbangan akhirnya memutuskan paling pas untuk memilih tiga universitas untuk mendaftar yaitu Science Education di Teachers College, Columbia University, Secondary Education (Specific in Biology) di The George Washington University, dan Biology Education di Seoul National University di Korea Selatan.

Bagian memilih universitas inilah yang paling serius teman-teman. Dibutuhkan beberapa pertimbangan tentang perbedaan budaya yang akan kita hadapi, penguasaan bahasa, penyesuaian dengan kondisi lingkungan atau musim di negera tujuan, dan hubungan kerja sama antara negara tujuan dengan negara kita. Kenyamanan dan keamanan menjadi prioritas.

Nah, begitulah alasan kenapa sih harus Amerika dan LPDP? Teman-teman bisa menjadikan cerita ini salah satu informasi untuk pertimbangan dalam memilih. Saya hanya berniat berbagi, dan berharap bisa membantu. Oh yah, selanjutnya ada cerita tentang kampus mana yang akhirnya saya pilih dan sudah sejauh mana proses yang saya lalui. Psstt... sedikit bocoran yah, memiliki alamat email resmi sebagai murid international dengan embel-embel universitas terkenal itu, rasanya menyenangkan loh...


Komentar

  1. Motivating bangeet kaak!! Semoga aku juga bisa!! Amiinn, allohumma sholli 'ala sayyidina Muhammad

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“TRY TO BE BETTER, NOT TO BE PERFECT!”

Diterima Dua Universitas di United Stated of America (USA) Part 1 : Sebuah Motivasi